Senin, 17 Oktober 2011

Air yang Tergenang

[الْمَاءُ الرَّاكِدُ]
Air yang Tergenang
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَالْمَاءُ الرَّاكِدُ مَاءَانِ: مَاءٌ لَا يَنْجُسُ بِشَيْءٍ خَالَطَهُ مِنْ الْمُحَرَّمِ، إلَّا أَنْ يَكُونَ لَوْنُهُ فِيهِ أَوْ رِيحُهُ أَوْ طَعْمُهُ قَاتِمًا. وَإِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ الْمُحَرَّمِ فِيهِ مَوْجُودًا بِأَحَدِ مَا وَصَفْنَا تَنَجَّسَ كُلُّهُ قَلَّ أَوْ كَثُرَ.
Ada dua macam air yang tergenang:
(Pertama) Air yang tidak najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, kecuali apabila warnanya, baunya, dan rasanya telah berubah. Apabila sesuatu yang haram terdapat dalam air itu dan merubah salah satu sifat yang disebutkan; baik warna, bau dan rasanya, maka air itu menjadi najis baik sedikit maupun banyak.
(قَالَ) : وَسَوَاءٌ إذَا وُجِدَ الْمُحَرَّمُ فِي الْمَاءِ جَارِيًا كَانَ أَوْ رَاكِدًا
Imam Syafi’i berkata: sama saja ketika sesuatu yang haram tersebut terdapat pada air yang mengalir ataukah pada air yang tergenang.
(قَالَ) : وَمَاءٌ يَنْجُسُ بِكُلِّ شَيْءٍ خَالَطَهُ مِنْ الْمُحَرَّمِ، وَإِنْ  لَمْ يَكُنْ مَوْجُودًا فِيهِ. فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: مَا الْحُجَّةُ فِي فَرْقٍ بَيْنَ مَا يَنْجُسُ وَمَا لَا يَنْجُسُ، وَلَمْ يَتَغَيَّرْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا؟ قِيلَ: السُّنَّةُ:
(Kedua) Air yang najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, walaupun yang haram itu tidak terdapat padanya. Apabila seseorang bertanya, "Apa alasan dalam membedakan antara air yang najis dan air yang tidak najis, padahal tidak ada perubahan apapun pada salah satunya (sifat – sifatnya)?" Maka dikatakan (jawabnya), (hujjah dalam hal ini adalah) Sunnah (hadits):
أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ أَنْ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجَسًا أَوْ خَبَثَا»
Telah mengabarkan kepada kami ats-Tsiqah dari al-Walid bin Katsir dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ketika air itu dua kullah, maka dia tidak membawa najis atau kotoran”. (HR. Asy-Syafi’i dalam musnadnya (1/21-22), HR. Ahmad dalam musnadnya (2/12,23,26-27,38,107), HR. Ad-Darimi dalam sunannya (1/202, nomor 731,732), HR. Abu Dawud dalam sunannya (1/178-179, nomor 64-66), HR. Tirmidzi dalam sunannya (1/97, nomor 67), HR. Nasa’i dalam sunannya (1/49-50 nomor 52, 1/191 nomor 327), HR. Ibnu Majah dalam sunannya (1/172 nomor 517, 518), HR. Daruquthni dalam sunannya (1/13-23 nomor 1 – 25), HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/49 nomor 92), HR. Ibnu Hiban dalam shahihnya (4/57 nomor 1249, 4/63 nomor 1253), HR. Hakim dalam mustadraknya (1/132), HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (1/260-262), Ibnu Mulaqqin dalam al-Badr al-Munir-nya berkata hadits ini hadits shahih).[1]
أَخْبَرَنَا مُسْلِمٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ بِإِسْنَادٍ لَا يَحْضُرُنِي ذِكْرُهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجَسًا» ، وَقَالَ فِي الْحَدِيثِ: بِقِلَالِ هَجَرَ، قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: وَرَأَيْت قِلَالَ هَجَرَ فَالْقُلَّةُ تَسَعُ قِرْبَتَيْنِ أَوْ قِرْبَتَيْنِ وَشَيْئًا.
Telah mengabarkan kepada kami Muslim, dari ibnu Juraij dengan sanad yang tidak aku ingat, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “apabila air itu dua kullah, maka dia tidak membawa najis”, dan dia berkata dalam hadits ini: dengan tempayan/buyung besar Hajara. Ibnu Juraij berkata: dan aku pernah melihat ‘tempayan/buyung besar Hajara’ maka satu qullah sepersembilan dari dua qirbah atau dua qirbah dan yang sepadan. (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (1/263), Ibnu Mulaqqin dalam al-Badr al-Munir mengatakan: Muslim bin Khalid, dan ketika dia dibicarakan di dalamnya (hadits tersebut), maka sungguh telah tsiqah kepadanya: Yahya bin Ma’in, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, dan keduanya mengeluarkan hadits darinya dalam shahih keduanya.)[2]
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : كَانَ مُسْلِمٌ يَذْهَبُ إلَى أَنَّ ذَلِكَ أَقَلَّ مِنْ نِصْفِ الْقِرْبَةِ أَوْ نِصْفِ الْقِرْبَةِ فَيَقُولُ: خَمْسُ قِرَبٍ هُوَ أَكْثَرُ مَا يَسَعُ قُلَّتَيْنِ، وَقَدْ تَكُونُ الْقُلَّتَانِ أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ، وَفِي قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجَسًا» دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ مَا دُونَ الْقُلَّتَيْنِ مِنْ الْمَاءِ يَحْمِلُ النَّجَسَ
Imam asy-Syafi’i berkata: Muslim berpendapat bahwasanya (dua kullah itu) kurang dari setengah geriba[3] atau setengah geriba, maka dia (Imam Syafi’i) berkata: lima geriba adalah lebih banyak daripada dua kullah. Sesungguhnya dua kullah itu kurang dari lima geriba. Dan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “ketika air itu dua kullah, maka dia tidak membawa najis” memiliki penunjukkan bahwa air yang tidak (atau kurang dari) dua kullah membawa najis.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَالِاحْتِيَاطُ أَنْ تَكُونَ الْقُلَّةُ قِرْبَتَيْنِ وَنِصْفًا، فَإِذَا كَانَ الْمَاءُ خَمْسَ قِرَبٍ لَمْ يَحْمِلْ نَجَسًا فِي جَرَيَانٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَقِرَبُ الْحِجَازِ كِبَارٌ، فَلَا يَكُونُ الْمَاءُ الَّذِي لَا يَحْمِلُ النَّجَاسَةَ إلَّا بِقِرَبٍ كِبَارٍ. وَإِذَا كَانَ الْمَاءُ أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ فَخَالَطَتْهُ مَيْتَةٌ نَجُسَ،
Imam asy-Syafi’i berkata:  maka adalah suatu kehati – hatian bahwa satu kullah adalah dua geriba dan setengahnya. Maka ketika air itu mencapai lima geriba, maka dia tidak membawa najis pada air yang mengalir atau yang selainnya.  Sedangkan ukuran geriba hijaz besar - besar, maka tidaklah air itu yang tidak membawa najis kecuali dengan geriba yang besar - besar. Dan apabila air tersebut kurang dari lima geriba, kemudian bercampur bangkai (di dalamnya), maka air tersebut najis.
وَنَجُسَ كُلُّ وِعَاءٍ كَانَ فِيهِ، فَأُهْرِيقَ، وَلَمْ يَطْهُرْ الْوِعَاءُ إلَّا بِأَنْ يُغْسَلَ، وَإِذَا كَانَ الْمَاءُ أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ فَخَالَطَتْهُ نَجَاسَةٌ لَيْسَتْ بِقَائِمَةٍ فِيهِ نَجَّسَتْهُ، فَإِنْ صُبَّ عَلَيْهِ مَاءٌ حَتَّى يَصِيرَ هُوَ بِاَلَّذِي صُبَّ عَلَيْهِ خَمْسَ قِرَبٍ فَأَكْثَرَ طَهُرَ، وَكَذَلِكَ لَوْ صَبَّ هُوَ عَلَى الْمَاءِ أَقَلَّ وَأَكْثَرَ مِنْهُ حَتَّى يَصِيرَ الْمَاءَانِ مَعًا أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ لَمْ يُنَجِّسْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ، وَإِذَا صَارَا خَمْسَ قِرَبٍ فَطَهُرَا، ثُمَّ فُرِّقَا، لَمْ يَنْجُسَا بَعْدَ مَا طَهُرَا إلَّا بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِمَا.
Maka najis setiap wadah yang di dalamnya terdapat najis, maka dituangkan (dibuang isi wadah yang najis tersebut), dan wadah tersebut tidaklah menjadi suci kecuali dengan dicuci. Dan apabila air yang kurang dari lima geriba bercampur dengan najis, berubah keadaannya, maka menajiskannya. Apabila dituangkan kepadanya air hingga menjadi lima geriba, maka air tersebut menjadi banyak dan suci. Demikian juga apabila dituangkan atas air yang kurang dan lebih banyak darinya hingga menjadi dua air yang bersama – sama lebih banyak dari lima geriba, maka air tersebut tidak menajiskan salah satu dari keduanya. Dan apabila menjadi lima geriba maka ia adalah air suci, kemudian dipisah-pisahkan (air yang sebelumnya disatukan), tidaklah menajiskan setelah suci (air yang dipisahkan tersebut) kecuali dengan najis yang mengotori di dalamnya (di dalamnya terdapat najis).
وَإِذَا وَقَعَتْ الْمَيْتَةُ فِي بِئْرٍ أَوْ غَيْرِهَا فَأُخْرِجَتْ فِي دَلْوٍ أَوْ غَيْرِهِ طُرِحَتْ، وَأُرِيقَ الْمَاءُ الَّذِي مَعَهَا؛ لِأَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ مُنْفَرِدًا مِنْ مَاءِ غَيْرِهِ، وَأَحَبُّ إلَيَّ لَوْ غُسِلَ الدَّلْوُ فَإِنْ لَمْ يُغْسَلْ وَرُدَّ فِي الْمَاءِ الْكَثِيرِ، طَهَّرَهُ الْمَاءُ الْكَثِيرُ، وَلَمْ يُنَجِّسْ هُوَ الْمَاءَ الْكَثِيرَ. (قَالَ) : وَالْمُحَرَّمُ كُلُّهُ سَوَاءٌ، إذَا وَقَعَ فِي أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ قِرَبٍ نَجَّسَهُ.
Dan ketika terdapat bangkai di dalam sumur atau yang lainnya kemudian dikeluarkan (diambil dari sumur) ke dalam ember atau yang selainnya, dan jernih air yang ada bersamanya. Apabila air tersebut kurang dari lima geriba tanpa adanya air yang lain, maka aku lebih menyukai untuk mencuci ember tersebut, tidaklah dicuci di dalam air yang banyak. Mensucikannya air yang banyak, dan tidak menajiskannya air yang banyak. Dan sama saja segala sesuatu yang diharamkan, ketika terdapat di dalam air yang kurang dari lima geriba, maka menajiskannya.
وَلَوْ وَقَعَ حُوتٌ مَيِّتٌ، فِي مَاءٍ قَلِيلٍ، أَوْ جَرَادَةٌ مَيِّتَةٌ لَمْ يَنْجُسْ؛ لِأَنَّهُمَا حَلَالٌ مَيِّتَتَيْنِ. وَكَذَلِكَ كُلُّ مَا كَانَ مِنْ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ مِمَّا يَعِيشُ فِي الْمَاءِ،
Dan apabila terdapat bangkai ikan paus di dalam air yang sedikit, atau bangkai belalang, maka tidak najis air tersebut. Hal ini karena keduanya adalah bangkai yang halal. Dan demikian pula setiap makhluk hidup yang hidup di dalam air.
وَمِمَّا لَا يَعِيشُ فِي الْمَاءِ مِنْ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ إذَا وَقَعَ فِي الْمَاءِ الَّذِي يَنْجُسُ مَيِّتًا نَجَّسَهُ، إذَا كَانَ مِمَّا لَهُ نَفْسٌ سَائِلَةٌ. فَأَمَّا مَا كَانَ مِمَّا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ، مِثْلُ الذُّبَابِ، وَالْخَنَافِسِ وَمَا أَشْبَهَهُمَا فَفِيهِ قَوْلَانِ:
Dan adapun makhluk hidup yang tidak hidup di dalam air ketika terdapat dalam air yang bangkai itu menajiskannya maka air tersebut menajiskan, ketika bangkai tersebut mengeluarkan cairannya. Maka adapun bangkai yang tidak mengeluarkan cairan seperti lalat, kumbang, dan yang sejenisnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:
أَحَدُهُمَا أَنَّ مَا مَاتَ مِنْ هَذَا فِي مَاءٍ قَلِيلٍ أَوْ كَثِيرٍ لَمْ يُنَجِّسْهُ، وَمَنْ قَالَ هَذَا قَالَ: فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: هَذِهِ مَيْتَةٌ، فَكَيْفَ زَعَمْت أَنَّهَا لَا تَنْجُسُ؟ قِيلَ: لَا تُغَيِّرُ الْمَاءَ بِحَالٍ، وَلَا نَفْسَ لَهَا فَإِنْ قَالَ: فَهَلْ مِنْ دَلَالَةٍ عَلَى مَا وَصَفْت؟ قِيلَ: نَعَمْ
Yang pertama bahwasanya apa – apa yang mati dari ini (lalat, kumbang, dsb) di dalam air yang sedikit atau banyak tidak menajiskannya. Dan apabila ada seseorang yang berkata tentang ini, apabila seseorang berkata: ini adalah bangkai, maka bagaimana mungkin engkau menyatakan bahwasanya dia tidaklah menajiskan? Dikatakan: tidak berubah air tersebut. Dan hewan tersebut tidaklah memiliki darah (yang mengalir). Maka jika berkata: apakah penunjukkan atas apa – apa yang telah engkau gambarkan? Dikatakan: ya.
«إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ بِالذُّبَابِ يَقَعُ فِي الْمَاءِ أَنْ يُغْمَسَ فِيهِ» ، وَكَذَلِكَ أَمَرَ بِهِ فِي الطَّعَامِ وَقَدْ يَمُوتُ بِالْغَمْسِ، وَهُوَ لَا يَأْمُرُ بِغَمْسِهِ فِي الْمَاءِ وَالطَّعَامِ وَهُوَ يُنَجِّسُهُ لَوْ مَاتَ فِيهِ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ عَمْدُ إفْسَادِهِمَا،
Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam – memerintahkan ketika terdapat lalat di dalam air agar menenggelamkannya di dalamnya (HR. Bukhari dalam Shahih-nya (6/414 nomor 3320 dan 5782), HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (34/314 nomor 3840), HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1/56 nomor 105), HR. Ibnu Hibban (4/53 nomor 1246, 12/55 nomor 5250), HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2/1159 nomor 3505), HR. Ad-Darimi dalam Sunan-nya (2/134-135 nomor 230). Perintah yang demikian itu di dalam makanan, dan sungguh lalat tersebut mati dengan menenggelamkannya. Dan tidaklah memerintahkan untuk menenggelamkannya di dalam air dan makanan apabila lalat tersebut menajiskannya sedangkan lalat tersebut mati di dalamnya. Karena sesungguhnya hal itu sengaja merusak keduanya.
وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ إذَا مَاتَ فِيمَا يَنْجُسُ نَجُسَ؛ لِأَنَّهُ مُحَرَّمٌ، وَقَدْ يَأْمُرُ بِغَمْسِهِ لِلدَّاءِ الَّذِي فِيهِ، وَالْأَغْلَبُ أَنَّهُ لَا يَمُوتُ،
Pendapat yang kedua: bahwasanya bangkai tersebut (lalat, kumbang, dst) ketika mati di dalam apa – apa yang menajiskan maka ia adalah najis. Karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang diharamkan, dan sungguh diperintahkan untuk menenggelamkannya karena penyakit yang ada di dalamnya. Dan sebagian besar ia tidaklah mati.
أَحَبُّ إلَيَّ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا أَنْ يُؤْكَلَ، فَوَقَعَ فِي مَاءٍ، فَلَمْ يَمُتْ حَتَّى أُخْرِجَ مِنْهُ لَمْ يُنَجِّسْهُ، وَإِنْ مَاتَ فِيهِ نَجَّسَهُ، وَذَلِكَ مِثْلُ الْخُنْفُسَاءِ وَالْجُعَلِ وَالذُّبَابِ وَالْبُرْغُوثِ، وَالْقَمْلَةِ وَمَا كَانَ فِي هَذَا الْمَعْنَى.
Pendapat yang paling kusukai adalah bahwasanya setiap yang haram untuk dimakan yang terdapat di dalam air, maka tidaklah mati hingga dikeluarkan darinya dan ini tidak menajiskannya (air tersebut), dan jika ia mati di dalamnya, maka ia menajiskannya. Yang demikian itu seperti kumbang, lalat, kutu, dan yang semisal dengan ini.
(قَالَ) : وَذُرَقُ الطَّيْرِ كُلِّهِ مَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ وَمَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ إذَا خَالَطَ الْمَاءَ نَجَّسَهُ؛ لِأَنَّهُ يَرْطُبُ بِرُطُوبَةِ الْمَاءِ.
Kotoran burung semuanya, baik itu yang dimakan dagingnya atau yang tidak dimakan dagingnya, ketika bercampur dengan air maka kotoran tersebut menajiskannya. Hal ini karena kotoran tersebut basah dengan basahnya air.
(قَالَ الرَّبِيعُ) وَعَرَقُ النَّصْرَانِيَّةِ وَالْجُنُبِ، وَالْحَائِضِ طَاهِرٌ، وَكَذَلِكَ الْمَجُوسِيِّ وَعَرَقُ كُلِّ دَابَّةٍ طَاهِرٌ وَسُؤْرُ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ كُلِّهَا طَاهِرٌ إلَّا الْكَلْبَ، وَالْخِنْزِيرَ.
(قَالَ الرَّبِيعُ) وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ. وَإِذَا وَضَعَ الْمَرْءُ مَاءً فَاسْتَنَّ بِسِوَاكٍ وَغَمَسَ السِّوَاكَ فِي الْمَاءِ ثُمَّ أَخْرَجَهُ، تَوَضَّأَ بِذَلِكَ الْمَاءِ؛ لِأَنَّ أَكْثَرَ مَا فِي السِّوَاكِ رِيقُهُ، وَهُوَ لَوْ بَصَقَ أَوْ تَنَخَّمَ أَوْ امْتَخَطَ فِي مَاءٍ لَمْ يُنَجِّسْهُ. وَالدَّابَّةُ نَفْسُهَا تَشْرَبُ فِي الْمَاءِ، وَقَدْ يَخْتَلِطُ بِهِ لُعَابُهَا فَلَا يُنَجِّسُهُ، إلَّا أَنْ يَكُونَ كَلْبًا أَوْ خِنْزِيرًا.
Ar-Rabi’ berkata: dan keringat orang nashrani, orang yang junub, dan orang yang haid adalah suci. Demikian pula dengan keringat orang majusi, setiap hewan yang melata, air liur hewan, dan hewan liar semuanya suci kecuali anjing dan babi.
Ar-Rabi’ berkata: dan ini adalah perkataan imam asy-Syafi’i. Ketika seseorang memasukan air maka dia membersihkan giginya dengan bersiwak dan menenggelamkan siwaknya itu di dalam air kemudian mengeluarkannya. Dibolehkan berwudlu dengan air yang seperti ini (sisa rendaman siwak). Karena yang banyak terdapat dalam siwak itu adalah air liurnya. Dan apabila dia meludah di dalam air tidak menajiskan air tersebut. Dan hewan yang melata minum di dalam air, dan bercampur di dalamnya air liurnya maka air liur tersebut tidak menajiskannya. Kecuali yang minum dalam air tersebut adalah anjing atau babi.
(قَالَ) : وَكَذَلِكَ لَوْ عَرِقَ فَقَطَرَ عَرَقُهُ فِي الْمَاءِ لَمْ يَنْجُسْ؛ لِأَنَّ عَرَقَ الْإِنْسَانِ وَالدَّابَّةِ لَيْسَ بِنَجَسٍ وَسَوَاءٌ مِنْ أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَ الْعَرَقُ مِنْ تَحْتِ مَنْكِبِهِ أَوْ غَيْرِهِ.
Demikian itu, apabila seseorang berkeringat, kemudian menetes keringatnya tersebut di dalam air, maka (tetesan keringat tersebut) tidak menajiskan. Karena keringat manusia dan hewan melata tidak najis, dan sama saja dari tempat yang mana saja keringat itu keluar, dari bawah ketiaknya atau yang lainnya.
وَإِذَا كَانَ الْحَرَامُ مَوْجُودًا فِي الْمَاءِ وَإِنْ كَثُرَ الْمَاءُ لَمْ يَطْهُرْ أَبَدًا بِشَيْءٍ يُنْزَحُ مِنْهُ، وَإِنْ كَثُرَ حَتَّى يَصِيرَ الْحَرَامُ مِنْهُ عَدَمًا لَا يُوجَدُ مِنْهُ فِيهِ شَيْءٌ قَائِمٌ، فَإِذَا صَارَ الْحَرَامُ فِيهِ عَدَمًا طَهُرَ الْمَاءُ، وَذَلِكَ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ مَاءً غَيْرَهُ أَوْ يَكُونَ مَعِينًا فَتَنْبُعُ الْعَيْنُ فِيهِ فَيَكْثُرُ، وَلَا يُوجَدُ الْمُحَرَّمُ فِيهِ فَإِذَا كَانَ هَكَذَا طَهُرَ وَإِنْ لَمْ يُنْزَحْ مِنْهُ شَيْءٌ.
Dan ketika sesuatu yang haram terdapat dalam air sumur, jika airnya banyak, tidak akan suci selama – lamanya dengan sesuatu ketika airnya habis. Jika airnya banyak hingga menjadi hilang sesuatu yang haram tersebut darinya tidak terdapat lagi di dalamnya, maka ketika sesuatu yang haram itu hilang airnya menjadi suci. Yang demikian itu bahwasanya menuangkan kepadanya air yang selainnya atau terdapat padanya air yang mengalir, maka memancar darinya mata air di dalamnya hingga menjadi banyak airnya. Dan tidaklah terdapat sesuatu yang haram di dalamnya ketika terjadi hal yang demikian dan suci airnya dan ketika tidak akan habis darinya air tersebut.
(قَالَ) : وَإِذَا نَجُسَ الْإِنَاءُ فِيهِ الْمَاءُ الْقَلِيلُ أَوْ الْأَرْضُ، أَوْ الْبِئْرُ ذَاتُ الْبِنَاءِ، فِيهَا الْمَاءُ الْكَثِيرُ بِحَرَامٍ يُخَالِطُهُ فَكَانَ مَوْجُودًا فِيهِ ثُمَّ صَبَّ عَلَيْهِ مَاءً غَيْرَهُ حَتَّى يَصِيرَ الْحَرَامُ غَيْرَ مَوْجُودٍ فِيهِ. وَكَانَ الْمَاءُ قَلِيلًا فَنَجُسَ، فَصَبَّ عَلَيْهِ مَاءً غَيْرَهُ حَتَّى صَارَ مَاءً لَا يَنْجُسُ مِثْلُهُ، وَلَمْ يَكُنْ فِيهِ حَرَامٌ- فَالْمَاءُ طَاهِرٌ، وَالْإِنَاءُ، وَالْأَرْضُ الَّتِي الْمَاءُ فِيهِمَا طَاهِرَانِ؛ لِأَنَّهُمَا إنَّمَا نَجُسَا بِنَجَاسَةِ الْمَاءِ، فَإِذَا صَارَ حُكْمُ الْمَاءِ إلَى أَنْ يَكُونَ طَاهِرًا كَانَ كَذَلِكَ حُكْمُ مَا مَسَّهُ الْمَاءُ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُحَوَّلَ حُكْمُ الْمَاءِ، وَلَا يُحَوَّلُ حُكْمُهُ، وَإِنَّمَا هُوَ تَبَعٌ لِلْمَاءِ يَطْهُرُ بِطَهَارَتِهِ، وَيَنْجُسُ بِنَجَاسَتِهِ.
Dan ketika wadah menjadi najis di dalamnya terdapat air yang sedikit, wadah tersebut dari tanah, atau sumur yang ditembok, di dalamnya terdapat air yang banyak yang terdapat dan bercampur dengan sesuatu yang diharamkan, kemudian dituangkan kepadanya air yang lain hingga sesuatu yang haram tersebut menjadi tidak tampak lagi di dalamnya. Dan air yang sedikit airnya maka ia menajiskan. Maka dituangkan air yang lain kepadanya hingga menjadi air yang tidak menajiskan yang semisal dengannya. Dan tidaklah di dalamnya terdapat sesuatu yang haram, maka air tersebut menjadi suci, dan wadah tersebut, dan tanah yang terdapat di dalamnya air kedua – duanya menjadi suci. Karena sesungguhnya keduanya najis karena najisnya air. Maka ketika hukum airnya menjadi suci, maka demikian pula dengan hukumnya sesuatu yang menyentuhnya. Dan tidaklah boleh mengubah hukum air dan tidak boleh mengubah hukumnya (wadah atau bejana tersebut), karena sesungguhnya ia mengikuti hukumnya air, wadah tersebut suci dengan sucinya air, dan najis dengan najisnya air.
وَإِذَا كَانَ الْمَاءُ قَلِيلًا فِي إنَاءٍ فَخَالَطَتْهُ نَجَاسَةٌ أُرِيقَ وَغُسِلَ الْإِنَاءُ، وَأَحَبُّ إلَيَّ لَوْ غُسِلَ ثَلَاثًا، فَإِنْ غُسِلَ وَاحِدَةً تَأْتِي عَلَيْهِ طَهُرَ، وَهَذَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَالَطَهُ إلَّا أَنْ يَشْرَبَ فِيهِ كَلْبٌ أَوْ خِنْزِيرٌ فَلَا يَطْهُرُ إلَّا بِأَنْ يُغْسَلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَإِذَا غَسَلَهُنَّ سَبْعًا جَعَلَ أُولَاهُنَّ أَوْ أُخْرَاهُنَّ تُرَابًا لَا يَطْهُرُ إلَّا بِذَلِكَ، فَإِنْ كَانَ فِي بَحْرٍ لَا يَجِدُ فِيهِ تُرَابًا فَغَسَلَهُ بِمَا يَقُومُ مَقَامَ تُرَابٍ فِي التَّنْظِيفِ مِنْ أُشْنَانٍ أَوْ نُخَالَةٍ أَوْ مَا أَشْبَهَهُ فَفِيهِ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا لَا يَطْهُرُ إلَّا بِأَنْ يُمَاسَّهُ التُّرَابَ وَالْآخَرُ يَطْهُرُ بِمَا يَكُونُ خَلَفًا مِنْ التُّرَابِ وَأَنْظَفَ مِنْهُ مِمَّا وَصَفْت كَمَا تَقُولُ فِي الِاسْتِنْجَاءِ.
Dan ketika air tersebut sedikit di dalam wadah, maka kemudian bercampur dengannya najis, maka menjadikannya jernih dan mencuci wadah tersebut.  Dan aku menyukai bila mencuci wadah tersebut tiga kali. Maka ketika mencuci wadah tersebut satu kali wadah tersebut sudah suci. Dan ini berlaku untuk semua najis yang mengenai wadah tersebut kecuali ketika anjing atau babi meminum air di dalam wadah tersebut. Maka wadah tersebut tidaklah suci kecuali dengan mencucinya sebanyak tujuh kali. Ketika mencuci wadah tersebut sebanyak tujuh kali, dijadikan yang pertama kalinya atau yang terakhir kalinya dengan tanah, tidak mungkin suci kecuali dengan cara seperti ini. Maka ketika berada di laut dan tidak menjumpai tanah, maka mencucinya dengan apa – apa yang bisa menggantikan tanah dalam mensucikan najis dari abu gosok, dedak, atau yang menyerupainya, maka di dalamnya terdapat dua pendapat:
Yang pertama: tidak suci kecuali dengan membasuhnya dengan tanah.
Yang kedua: mensucikan dengan apa – apa yang menjadi pengganti dari tanah dan lebih membersihkan najis tersebut darinya sebagaimana yang telah aku gambarkan, sebagaimana yang aku katakan dalam ‘istinja’ (bercebok dengan batu).
وَإِذَا نَجَّسَ الْكَلْبُ أَوْ الْخِنْزِيرُ بِشُرْبِهِمَا نَجَّسَا مَا مَاسَّا بِهِ الْمَاءَ مِنْ أَبْدَانِهِمَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِمَا نَجَاسَةٌ،
Dan ketika anjing atau babi menajiskan wadah dengan minum darinya, najis air yang bersentuhan dengannya dan ketika najis tidak ada lagi atas keduanya (sudah dituang air sisa minumnya).
وَكُلُّ مَا لَمْ يَنْجُسْ بِشُرْبِهِ فَإِذَا أَدْخَلَ فِي الْمَاءِ يَدًا أَوْ رِجْلًا أَوْ شَيْئًا مِنْ بَدَنِهِ لَمْ يُنَجِّسْهُ إلَّا بِأَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ قَذَرٌ فَيُنَجِّسُ الْقَذَرُ الْمَاءَ لَا جَسَدُهُ
Dan setiap yang tidak menajiskan dengan minumnya, maka ketika masuk di dalam air tersebut tangan, atau seseorang, atau sesuatu dari badannya, tidak menajiskannya kecuali ketika padanya terdapat kotoran (tahi) maka tahi tersebut menajiskan air bukan jasadnya yang menajiskan.
فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَكَيْفَ جَعَلْت الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ إذَا شَرِبَا فِي إنَاءٍ لَمْ يُطَهِّرْهُ إلَّا سَبْعُ مَرَّاتٍ وَجَعَلْت الْمَيْتَةَ إذَا وَقَعَتْ فِيهِ أَوْ الدَّمَ طَهَّرَتْهُ مَرَّةٌ إذَا لَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْ هَؤُلَاءِ أَثَرٌ فِي الْإِنَاءِ؟ قِيلَ لَهُ اتِّبَاعًا لِرَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ketika berkata seseorang, maka bagaimana engkau menganggap anjing dan babi ketika minum di dalam wadah tidak dapat mensucikannya (wadah tersebut) kecuali dengan tujuh kali (mencuci) dan engkau menjadikan bangkai ketika terdapat di dalam wadah tersebut atau darah, cukup dicuci sekali saja ketika tidak terdapat padanya satu dari semuanya itu bekas di dalam wadah tersebut? Dikatakan kepadanya, aku mengikuti Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ»
Imam asy-Syafi’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu ’Uyaynah dari Abi az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”ketika anjing menjilat di dalam wadah seseorang diantara kalian, maka cucilah wadah tersebut tujuh kali” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (1/234, nomor 279)[4]
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ»
Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abi az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah berkata: ”Rasullullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ketika anjing minum di dalam wadah seseorang diantara kalian, maka cucilah wadah tersebut tujuh kali” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya (1/330 nomor 172), HR. Muslim dalam Shahih-nya (1/234 nomor 279), HR. Malik dalam al-Muwaththa’ nya (1/34 nomor 90)
أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ أَبِي تَمِيمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ أَوْ أُخْرَاهُنَّ بِتُرَابٍ»
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu ’Uyaynah dari Ayyub bin Abi Tamimah dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”ketika anjing menjilat wadah seseorang di antara kalian maka cucilah wadah tersebut tujuh kali, yang pertama atau yang terakhirnya dengan menggunakan tanah” (HR. Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (80), HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (1/241), HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya (1/151-152 nomor 91, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hadits hasan shahih)
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَقُلْنَا فِي الْكَلْبِ بِمَا أَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَكَانَ الْخِنْزِيرُ إنْ لَمْ يَكُنْ فِي شَرٍّ مِنْ حَالِهِ لَمْ يَكُنْ فِي خَيْرٍ مِنْهَا فَقُلْنَا بِهِ قِيَاسًا عَلَيْهِ، وَقُلْنَا فِي النَّجَاسَةِ سِوَاهُمَا بِمَا:
Imam asy-Syafi’i berkata: maka kami katakan di dalam masalah (najisnya) anjing dengan apa – apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan adapun babi ketika tidak ada di dalamnya keburukan dari berubahnya, tidak ada padanya kebaikan darinya (maksudnya babi tidaklah lebih baik daripada anjing, bahkan lebih buruk lagi). Maka kami katakan dengannya qiyas atasnya. Dan kami katakan tentang najis yang lain (yaitu najis seperti bangkai dan darah sebagaimana tersebut di atas) dengan hadits berikut ini:
أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ أَنَّهُ سَمِعَ امْرَأَتَهُ فَاطِمَةَ بِنْتَ الْمُنْذِرِ تَقُولُ سَمِعْت جَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ تَقُولُ سَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَنْ دَمِ الْحَيْضِ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَ: «حُتِّيهِ ثُمَّ اُقْرُصِيهِ ثُمَّ رُشِّيهِ وَصَلِّي فِيهِ»
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyaynah dari Hisyam bin ‘Urwah bahwasanya dia mendengar istrinya Fatimah binti al-Mundzir mengatakan aku mendengar nenekku Asma’ binti Abu Bakr mengatakan, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang darah haid yang mengenai pakaian, Rasulullah bersabda: “gosoklah ia kemudian keriklah kemudian percikilah ia dan sholatlah di dalamnya” (HR. Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (8), Ibnu Mulaqqin dalam al-Badr al-Munir mengatakan bahwa hadits ini hadits shahih).[5]
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِرِ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ سَأَلَتْ امْرَأَةٌ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْت إحْدَانَا إذَا أَصَابَ ثَوْبَهَا الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَهَا: «إذَا أَصَابَ ثَوْبَ إحْدَاكُنَّ الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّ فِيهِ»
Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari Fathimah binti al-Mundzir dari Asma’ dia berkata, seorang wanita bertanya kepada Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, aku melihat salah seorang di antara kami ketika pakaiannya terkena darah haid, bagaimana aku harus membuatnya? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “ketika pakaian salah seorang di antara kalian terkena darah haid, maka keriklah ia kemudian perciki ia dengan air kemudian shalatlah di dalamnya” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya (1/395 nomor 227 dan 307), HR. Muslim dalam Shahih-nya (1/240 nomor 291)
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِغَسْلِ دَمِ الْحَيْضَةِ، وَلَمْ يُوَقِّتْ فِيهِ شَيْئًا وَكَانَ اسْمُ الْغُسْلِ يَقَعُ عَلَى غَسْلِهِ مَرَّةً وَأَكْثَرَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى {فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة: 6] فَأَجْزَأَتْ مَرَّةٌ؛ لِأَنَّ كُلَّ هَذَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ الْغُسْلِ
Imam asy-Syafi’i berkata: maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mencuci darah haid, dan tidak ditentukan waktunya (jumlahnya) di dalamnya sedikitpun. Dan adalah kata “al-ghuslu” (basuhan/cucian) terdapat pada mencucinya satu kali atau lebih sebagaimana firman Allah tabaraka wa ta’ala:
{فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة: 6]
“Maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian hingga kedua siku” (QS. Al-Maidah: 6)
Maka boleh membasuhnya satu kali, karena setiap hal ini terdapat padanya kata “al-ghuslu” (basuhan/cucian).
(قَالَ) : فَكَانَتْ الْأَنْجَاسُ كُلُّهَا قِيَاسًا عَلَى دَمِ الْحَيْضَةِ، لِمُوَافَقَتِهِ مَعَانِي الْغُسْلِ وَالْوُضُوءِ فِي الْكِتَابِ وَالْمَعْقُولِ، وَلَمْ نَقِسْهُ عَلَى الْكَلْبِ؛ لِأَنَّهُ تَعَبُّدٌ، أَلَا تَرَى أَنَّ اسْمَ الْغُسْلِ يَقَعُ عَلَى وَاحِدَةٍ وَأَكْثَرَ مِنْ سَبْعٍ، وَأَنَّ الْإِنَاءَ يُنَقَّى بِوَاحِدَةٍ، وَبِمَا دُونَ السَّبْعِ، وَيَكُونُ بَعْدَ السَّبْعِ فِي مُمَاسَّةِ الْمَاءِ مِثْلَ قَبْلِ السَّبْعِ؟
 Maka adalah najis – najis tersebut semuanya diqiyaskan atas darah haid. Untuk menyepakatinya makna ‘al-ghuslu’ (basuhan atau cucian) dan wudlu di dalam al-kitab dan akal. Dan tidaklah mencelanya atas anjing, karena hal itu adalah ibadah, tidakkah anda melihat bahwasanya kata ‘al-ghuslu’ (basuhan atau cucian) itu terdapat pada satu dan lebih banyak dari tujuh. Dan bahwasanya wadah yang dibersihkan atau disucikan dengan satu kali basuhan, dan tanpa tujuh kali basuhan, dan adalah setelah  tujuh kali bersentuhan dengan air seperti atau sebagaimana sebelum ketujuh kalinya?
(قَالَ) : وَلَا نَجَاسَةَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْأَحْيَاءِ مَاسَّتْ مَاءً قَلِيلًا، بِأَنْ شَرِبَتْ مِنْهُ أَوْ أَدْخَلَتْ فِيهِ شَيْئًا مِنْ أَعْضَائِهَا، إلَّا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ، وَإِنَّمَا النَّجَاسَةُ فِي الْمَوْتَى، أَلَا تَرَى أَنَّ الرَّجُلَ يَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيَعْرَقُ الْحِمَارُ وَهُوَ عَلَيْهِ، وَيَحِلُّ مَسُّهُ؟ فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: مَا الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ؟
Dan tidaklah najis di dalam segala sesuatu dari makhluk hidup (binatang) yang menyentuh air yang sedikit.  Baik dengan cara meminumnya atau masuk ke dalam air itu, atau memasukkan salah satu anggota tubuhnya, kecuali anjing dan babi. Dan sesungguhnya najis di dalam binatang yang telah mati. Tidakkah anda melihat bahwasanya seseorang menunggangi keledai, dan keledai tersebut berkeringat sedangkan dia ada di atasnya, dan dia menghalalkan untuk menyentuhnya? Ketika seseorang berkata: apakah dalil atas hal itu?
قِيلَ أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ دَاوُد بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سُئِلَ: أَيُتَوَضَّأُ بِمَا أَفَضَلَتْ الْحُمُرُ؟ فَقَالَ: نَعَمْ وَبِمَا أَفَضَلَتْ السِّبَاعُ كُلُّهَا» .
Dikatakan, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Muhammad dari Dawud bin al-Hushain dari ayahnya dari Jabir bin ‘Abdillah, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: apakah berwudlu dengan apa – apa sisa keledai? Maka Rasul bersabda: ya, dan dengan apa – apa sisa binatang buas semuanya” (HR. Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (halaman 22), HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (1/249), Ibnu Mulaqqin di dalam al-Badr al-Munir tidak mengatakan secara jelas derajat hadits ini akan tetapi beliau menjelaskan perawi – perawi yang ada di dalamnya diantaranya adalah Ibrahim bin Abi Yahya yang oleh jumhur dinilai dhoif).[6]
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي حَبِيبَةَ أَوْ أَبِي حَبِيبَةَ " شَكَّ الرَّبِيعُ " عَنْ دَاوُد بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِمِثْلِهِ
Imam asy-Syafi’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Said bin Salim dari Ibnu Abi Habibah –Ar-Rabi’ ragu- dari Dawud bin al-Hushain dari Jabin bin Abdillah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan yang semisal (hadits di atas).
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ حَمِيدَةَ بِنْتِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ «عَنْ كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ فَسَكَبَتْ لَهُ وُضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَشَرِبَتْ مِنْهُ قَالَتْ: فَرَآنِي أَنْظُرُ إلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إنَّهَا مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ» .
Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ishak bin Abdillah dari Hamidah binti ‘Ubaid bin Rifa’ah, “dari Kabsyah binti Ka’bi bin Malik dan adalah di bawah ibnu Abi Qatadah bahwa Aba Qatadah masuk maka menuangkan baginya air wudlu maka datang kucing maka ia minum darinya, Ia berkata: maka ia melihatku memandanginya maka ia bertanya, "Apakah engkau heran, wahai putri saudaraku? Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya kucing itu tidak najis dan sesungguhnya ia adalah binatang yang mengelilingi kamu " (HR. Malik dalam Muwaththa’ nya (1/22/23), HR. Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (halaman 9), HR. Ahmad dalam Musnad-nya (5/296, 303,309), HR. Ad-Darimi dalam Sunan-nya (1/303, nomor 736), HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1/184-185, nomor 76), HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya (1/153-154, nomor 96), HR. Nasa’i dalam Sunan-nya (1/57, nomor 68), HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/131, nomor 367), HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1/55, nomor 104), HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (4/114-115, nomor  1299), HR. Hakim dalam Mustadrak-nya (1/160), HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (1/245), Ibnu Mulaqqin mengatakan dalam al-Badr al-Munir: hadits ini hadits shahih masyhur).[7]
(قَالَ الشَّافِعِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) : أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِثْلَهُ أَوْ مِثْلَ مَعْنَاهُ
Imam asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata: telah mengabarkan kepada kami ats-Tsiqah dari Yahya bin Abi Katsir dari ‘Abdillah bin Abi Qatadah dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadits yang semisal dengannya atau yang semisal maknanya.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَقِسْنَا عَلَى مَا عَقَلْنَا مِمَّا وَصَفْنَا، وَكَانَ الْفَرْقُ بَيْنَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَبَيْنَ مَا سِوَاهُمَا مِمَّا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ، أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهَا شَيْءٌ حُرِّمَ أَنْ يُتَّخَذَ إلَّا لِمَعْنًى، وَالْكَلْبُ حُرِّمَ أَنْ يُتَّخَذَ لَا لِمَعْنَى، وَجَعَلَ يَنْقُصُ مِنْ عَمَلِ مَنْ اتَّخَذَهُ مِنْ غَيْرِ مَعْنًى كُلَّ يَوْمٍ - قِيرَاطٌ أَوْ قِيرَاطَانِ، مَعَ مَا يَتَفَرَّقُ بِهِ مِنْ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا هُوَ فِيهِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ. فَفَضْلُ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ الدَّوَابِّ يُؤْكَلُ لَحْمُهُ، أَوْ لَا يُؤْكَلُ حَلَالٌ إلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ.
Imam asy-Syafi’i berkata: maka berdasarkan atas apa – apa yang terdapat pada pemikiran kami dari apa – apa yang kami gambarkan, adalah pembagian antara anjing, babi, dan antara yang selainnya dari yang tidak dimakan dagingnya, bahwasanya ia (hewan yang tidak dimakan dagingnya) tidak dianggap haram kecuali secara maknawi saja. Dan anjing diharamkan karena ditetapkan sebagai haram tidak karena secara maknawi saja, serta anjing menjadikan menurun amal seseorang yang menjadikannya dari selain makna (maksudnya orang yang memeliharanya di rumah tanpa keperluan), setiap hari – satu qirath (4/6 dinar) atau dua qirath[8], dan bahwasanya Malaikat tidak masuk kedalam rumah yang terdapat di dalamnya  anjing dan yang lainnya (lukisan)[9]. Maka yang lebih utama adalah bahwa segala jenis hewan yang dimakan dagingnya atau yang tidak dimakan dagingnya adalah halal kecuali anjing dan babi.
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَإِذَا تَغَيَّرَ الْمَاءُ الْقَلِيلُ أَوْ الْكَثِيرُ فَأَنْتَنَ أَوْ تَغَيَّرَ لَوْنُهُ بِلَا حَرَامٍ خَالَطَهُ فَهُوَ عَلَى الطَّهَارَةِ، وَكَذَلِكَ لَوْ بَالَ فِيهِ إنْسَانٌ فَلَمْ يَدْرِ أَخَالَطَهُ نَجَاسَةٌ أَمْ لَا وَهُوَ مُتَغَيِّرُ الرِّيحِ أَوْ اللَّوْنِ أَوْ الطَّعْمِ فَهُوَ عَلَى الطَّهَارَةِ حَتَّى تُعْلَمَ نَجَاسَتُهُ؛ لِأَنَّهُ يُتْرَكُ لَا يُسْتَقَى مِنْهُ فَيَتَغَيَّرُ، وَيُخَالِطُهُ الشَّجَرُ وَالطُّحْلُبُ فَيُغَيِّرُهُ.
Imam asy-Syafi’i berkata: apabila air yang sedikit atau banyak telah berubah sehingga membusuk atau berubah warnanya dikarenakan bercampur dengan sesuatu yang tidak haram, maka air itu dikategorikan sebagi air yang suci. Demikian juga halnya apabila seseorang yang kencing dalam air dan tidak diketahui apakah air itu bercampur najis atau tidak sementara warna, bau dan rasanya telah berubah, maka air itu tetap suci sehingga diketahui dengan jelas penyebab najisnya. Karena ketika air itu dibiarkan dan tidak diambil sebagai air minum, maka barangkali saja ia berubah dikarenakan bercampur dengan pohon dan lumut.
(قَالَ) : وَإِذَا وَقَعَ فِي الْمَاءِ شَيْءٌ حَلَالٌ فَغَيَّرَ لَهُ رِيحًا أَوْ طَعْمًا، وَلَمْ يَكُنْ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِهِ وَذَلِكَ أَنْ يَقَعَ فِيهِ الْبَانُ أَوْ الْقَطْرَانُ فَيَظْهَرُ رِيحُهُ أَوْ مَا أَشْبَهَهُ.
Apabila sesuatu yang halal terjatuh pada air dan merubah bau dan rasanya, akan tetapi air tidak menjadi rusak olehnya, maka seseorang bisa menggunakannya untuk berwudhu; seperti apabila yang jatuh ke dalam air itu adalah susu atau ‘ter’ atau yang semisalnya sehingga menimbulkan aroma tersendiri.
وَإِنْ أَخَذَ مَاءً فَشِيبَ بِهِ لَبَنٌ أَوْ سَوِيقٌ أَوْ عَسَلٌ فَصَارَ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ لَمْ يُتَوَضَّأْ بِهِ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فِيهِ إنَّمَا يُقَالُ لِهَذَا مَاءُ سَوِيقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مَشُوبٌ وَإِنْ طُرِحَ مِنْهُ فِيهِ شَيْءٌ قَلِيلٌ يَكُونُ مَا طُرِحَ فِيهِ مِنْ سَوِيقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ، وَيَكُونُ لَوْنُ الْمَاءِ الظَّاهِرُ وَلَا طَعْمَ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا فِيهِ تَوَضَّأَ بِهِ، وَهَذَا مَاءٌ بِحَالِهِ وَهَكَذَا كُلُّ مَا خَالَطَ الْمَاءَ مِنْ طَعَامٍ، وَشَرَابٍ وَغَيْرِهِ إلَّا مَا كَانَ الْمَاءُ قَارًّا فِيهِ، فَإِذَا كَانَ الْمَاءُ قَارًّا فِي الْأَرْضِ فَأَنْتَنَ أَوْ تَغَيَّرَ تَوَضَّأَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ لَا اسْمَ لَهُ دُونَ الْمَاءِ، وَلَيْسَ هَذَا كَمَا خُلِطَ بِهِ مِمَّا لَمْ يَكُنْ فِيهِ.
Adapun jika air bercampur dengan susu, tepung, atau madu, lalu air itu didominasi oleh benda-benda tadi, maka air itu tidak dapat digunakan untuk berwudhu dikarenakan air yang didominasi oleh benda-benda itu dinisbatkan kepada apa yang mendominasinya, seperti dikatakan; air tepung, air susu, atau air madu yang bercampur.
Kemudian apabila sesuatu yang mempunyai kadar rendah dimasukkan ke dalam air tersebut; baik berupa tepung, susu atau madu, lalu benda-benda ini tampak pada air tersebut, maka air yang suci dan tidak berubah rasanya ini boleh digunakan untuk berwudhu, sebab air itu tidak berubah (sebagaimana adanya). Dan air ini dengan keadannya dan setiap apa – apa yang mencampuri air dari makanan dan minuman dan yang selainnya kecuali apa – apa yang menetap pada air tersebut, maka apabila air menetap pada bumi, sehingga membusuk atau berubah, maka dibolehkan berwudlu dengannya, karena air tersebut tidak akan memiliki nama tanpa adanya air. Dan tidaklah hal ini (membusuk atau berubahnya air) sebagaimana bercampur dengan air tersebut dari apa – apa yang tidak terdapat padanya.
وَلَوْ صَبَّ عَلَى الْمَاءِ مَاءَ وَرْدٍ فَظَهَرَ رِيحُ مَاءِ الْوَرْدِ عَلَيْهِ لَمْ يَتَوَضَّأْ بِهِ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فِيهِ وَالْمَاءُ الظَّاهِرُ لَا مَاءُ الْوَرْدِ (قَالَ) : وَكَذَلِكَ لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ قَطْرَانٌ فَظَهَرَ رِيحُ الْقَطْرَانِ فِي الْمَاءِ لَمْ يَتَوَضَّأْ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ تَوَضَّأَ بِهِ؛ لِأَنَّ الْقَطْرَانَ وَمَاءَ الْوَرْدِ يَخْتَلِطَانِ بِالْمَاءِ فَلَا يَتَمَيَّزَانِ مِنْهُ.
Demikian halnya jika dituangkan air mawar di atas air sehingga air tersebut menimbulkan aroma air mawar, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Karena air tersebut sudah didominasi oleh air mawar, dan air secara dzahir bukanlah air mawar. Demikian halnya jika dituangkan padanya minyak kayu cendana di atas air sehingga air tersebut menimbulkan aroma minyak kayu cendana, maka tidak boleh berwudlu dengannya.  Akan tetapi jika tidak menimbulkan bau, maka diperbolehkan untuk berwudlu dengannya; karena apabila minyak kayu cendana atau air mawar dicampur dengan air, maka keduanya tidak dapat dibedakan.
وَلَوْ صُبَّ فِيهِ دُهْنٌ طَيِّبٌ أَوْ أُلْقِيَ فِيهِ عَنْبَرٌ أَوْ عُودٌ أَوْ شَيْءٌ ذُو رِيحٍ لَا يَخْتَلِطُ بِالْمَاءِ فَظَهَرَ رِيحُهُ فِي الْمَاءِ تَوَضَّأَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْمَاءِ شَيْءٌ مِنْهُ يُسَمَّى الْمَاءُ مَخُوضًا بِهِ، وَلَوْ كَانَ صُبَّ فِيهِ مِسْكٌ أَوْ ذَرِيرَةٌ أَوْ شَيْءٌ يَنْمَاعُ فِي الْمَاءِ حَتَّى يَصِيرَ الْمَاءُ غَيْرَ مُتَمَيِّزٍ مِنْهُ فَظَهَرَ فِيهِ رِيحٌ لَمْ يَتَوَضَّأْ بِهِ؛ لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ مَاءٌ مَخُوضٌ بِهِ وَإِنَّمَا يُقَالُ لَهُ مَاءُ مِسْكٍ مَخُوضَةٍ، وَذَرِيرَةٍ مَخُوضَةٍ وَهَكَذَا كُلُّ مَا أُلْقِيَ فِيهِ مِنْ الْمَأْكُولِ مِنْ سَوِيقٍ أَوْ دَقِيقٍ وَمَرَقٍ وَغَيْرِهِ إذَا ظَهَرَ فِيهِ الطَّعْمُ وَالرِّيحُ مِمَّا يَخْتَلِطُ فِيهِ لَمْ يَتَوَضَّأْ بِهِ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ حِينَئِذٍ مَنْسُوبٌ إلَى مَا خَالَطَهُ مِنْهُ.
Jika minyak wangi, minyak ambar, kayu cendana atau sesuatu yang mempunyai aroma dituangkan ke dalam air, namun tidak dapat melebur di dalamnya melainkan menimbulkan bau, maka dibolehkan berwudhu dengan air itu, karena tidak ada sesuatu pun dari benda-benda tersebut yang bercampur dengannya, dan air tersebut dinamakan dengan zat – zat yang tercebur di dalamnya.
Jika dituangkan minyak kesturi atau dzarirah (sejenis wangi-wangian) atau sesuatu yang larut dalam air sehingga air itu melebur dan tidak dapat dibedakan, lalu timbul bau padanya, maka tidak boleh berwudlu dengan air itu, karena dia bukan air lagi, tapi air yang bercampur dengan benda. Dan disebut air tersebut sebagai air minyak kesturi atau air dzarirah dan yang lainnya yang dijatuhkan di dalamnya dari hal – hal yang dimakan seperti tepung atau kaldu dan yang selainnya ketika tampak padanya rasanya atau baunya dari apa – apa yang mencampurinya maka tidak boleh berwudlu dengannya karena air tersebut saat itu ternisbatkan kepada apa yang mencampurinya.




[1] Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munir, Jilid 1 (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1425 H), h. 404.
[2] Ibid., h. 414.
[3] Satu geriba setara dengan 100 ratl atau 38,25 kg. Apabila imam Syafi’i mengatakan lebih dari lima geriba berarti lebih dari 191,25 kg air. Sedangkan satu qullah itu setara dengan 95 kg, maka dua qullah kurang lebih adalah 190 kg air yang kurang lebih sama dengan lima geriba tersebut. Apabila lima geriba itu dirupakan dalam bentuk kubus, maka kurang lebih kubus tersebut memiliki sisi 57,61 cm (lebih amannya dibulatkan menjadi 60 cm di tiap sisinya). (diambil dari tanya jawab pada website shafifiqh.com tentang “Qirbah”)
[4] Hadits ini dan 2 hadits selanjutnya adalah hadits masyhur dengan bermacam – macam redaksi dan jalur. Di sini disebutkan hadits riwayat Muslim atau Bukhari misalnya dengan melihat pada kesamaan makna saja (redaksi tidak persis sama dengan yang terdapat dalam kitab – kitab haditsnya). Lihat kitab al-Badr al-Munir Bab Penjelasan Najis dan Air yang Najis hadits ke dua puluh dua untuk takhrij hadits beserta ragam redaksi yang ada.
[5] Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munir, Jilid 1 (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1425 H), h. 513.
[6] Ibid., h. 469.
[7] Ibid., h. 552.
[8] Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dalam Shahih-nya:
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا، فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ، إِلَّا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ» ، قَالَ ابْنُ سِيرِينَ، وَأَبُو صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِلَّا كَلْبَ غَنَمٍ أَوْ حَرْثٍ أَوْ صَيْدٍ» ، وَقَالَ أَبُو حَازِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ»
“Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menyentuh anjing berarti sepanjang hari itu dia telah menghapus amalnya sebanyak satu qirath kecuali menyentuh anjing ladang atau anjing jinak”. Berkata Ibnu Sirin dan Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kecuali anjing untuk mengembalakan kambing atau ladang atau anjing pemburu”. Dan berkata, Abu Hazim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “anjing pemburu atau anjing yang jinak”. HR. Bukhari No. 2322.
[9] Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah dalam Sunan-nya:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ، وَلَا صُورَةٌ»
“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyaynah, dari az-Zuhri, dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Abi Thalhah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan lukisan”. HR. Ibnu Majah No. 3649.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar