Rabu, 02 November 2011

Bejana – Bejana Selain Kulit

[الْآنِيَةُ غَيْرُ الْجُلُودِ]
Bejana – Bejana Selain Kulit
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَا أَكْرَهُ إنَاءً تُوُضِّئَ فِيهِ مِنْ حِجَارَةٍ ، وَلَا حَدِيدٍ ، وَلَا نُحَاسٍ ، وَلَا شَيْءٍ غَيْرِ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ إلَّا آنِيَةَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، فَإِنِّي أَكْرَهُ الْوُضُوءَ فِيهِمَا.
Imam asy-Syafi’i berkata: dan tidak makruh wudlu dari bejana yang terbuat dari kayu, besi, tembaga, dan dari segala sesuatu selain yang berasal dari makhluk hidup kecuali bejana yang terbuat dari emas dan perak. Maka sesungguhnya aku memakruhkan wudlu di dalam keduanya (bejana yang terbuat dari emas dan perak tersebut).
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - " أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «الَّذِي يَشْرَبُ فِي إنَاءِ الْفِضَّةِ إنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ»
Imam asy-Syafi’i berkata: telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Zaid bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ‘Abdillah bin ‘Abdi ar-Rahman bin Abi Bakrin dari Ummi Salamah istri Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berkata: “Orang – orang yang minum di dalam wadah/bejana yang terbuat dari perak sesungguhnya ia menuang api jahannam di dalam perutnya” (HR. Malik dalam Muwaththa’ nya (2/705, nomor 11), HR. Bukhari dalam Shahih-nya (10/98, nomor 5634), HR. Muslim dalam Shahih-nya (3/1634, nomor 2065))[1]
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَإِنْ تَوَضَّأَ أَحَدٌ فِيهَا، أَوْ شَرِبَ، كَرِهْتُ ذَلِكَ لَهُ، وَلَمْ آمُرْهُ يُعِيدُ الْوُضُوءَ، وَلَمْ أَزْعُمْ أَنَّ الْمَاءَ الَّذِي شَرِبَ، وَلَا الطَّعَامَ الَّذِي أَكَلَ فِيهَا مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ، وَكَانَ الْفِعْلُ مِنْ الشُّرْبِ فِيهَا مَعْصِيَةً،
Imam asy-Syafi’i berkata: maka ketika seseorang berwudlu di dalamnya, atau minum di dalamnya, aku memakruhkan yang demikian itu baginya. Dan aku tidaklah memerintahkannya mengulangi wudlunya. Dan aku tidak berkata bahwasanya air yang diminum dan makanan yang dimakan di dalamnya adalah haram atasnya. Dan adalah perbuatan minum di dalamnya tersebut adalah maksiat.
فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يُنْهَى عَنْهَا وَلَا يَحْرُمُ الْمَاءُ فِيهَا؟ قِيلَ لَهُ - إنْ شَاءَ اللَّهُ - إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إنَّمَا نَهَى عَنْ الْفِعْلِ فِيهَا لَا عَنْ تِبْرِهَا وَقَدْ فُرِضَتْ فِيهَا الزَّكَاةُ وَتَمَوَّلَهَا الْمُسْلِمُونَ وَلَوْ كَانَتْ نَجِسًا لَمْ يَتَمَوَّلْهَا أَحَدٌ وَلَمْ يَحِلَّ بَيْعُهَا وَلَا شِرَاؤُهَا.
Maka jika dikatakan: maka bagaimana melarang darinya dan tidak mengharamkan air yang terdapat di dalamnya? Dikatakan kepadanya: insya Allah sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam ketika melarang dari perbuatan tersebut tidaklah dari kerusakannya (bejana perak tersebut), dan sungguh difardlukan atasnya zakat dan kaum muslimin menjadikannya harta, apabila perak tersebut adalah najis, tidaklah seseorang menjadikannya harta dan tidaklah halal menjual dan membelinya.


[1] Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munir, Jilid 1 (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1425 H), h. 621.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar